Sena selalu merasa bahwa dunia adalah kanvas tanpa batas, menanti untuk dilukis dengan warna-warna paling cerah. Fokusnya hanyalah pada kuas dan palet, jauh dari hiruk pikuk tanggung jawab yang membebani bahu orang dewasa. Ia percaya waktu akan selalu berpihak pada kebebasan jiwanya, membiarkannya berlama-lama dalam dunia imajinasi.
Namun, kebebasan itu seolah direnggut paksa ketika telepon berdering di tengah malam dengan kabar buruk. Ayahnya jatuh sakit mendadak, dan bisnis kecil keluarga yang menjadi satu-satunya sandaran ekonomi terancam gulung tikar karena tumpukan utang yang tak terduga. Tiba-tiba, kanvas Sena dipenuhi warna kelabu ketakutan dan ketidakpastian.
Keputusan harus segera dibuat: melanjutkan kuliah seni di kota impiannya atau kembali ke rumah untuk mengambil alih toko yang sudah di ambang kejatuhan. Berat, namun Sena tahu pasti bahwa impian bisa menunggu, tetapi keluarganya tidak. Ia menanggalkan jubah mahasiswanya dan mengenakan apron penjaga toko, sebuah seragam yang terasa asing dan mencekik.
Hari-hari Sena berganti menjadi tawar-menawar dengan pemasok yang kejam, menghitung kerugian yang terus membengkak, dan menghadapi tatapan skeptis kerabat yang meragukan kemampuannya. Ia belajar bahwa mengelola angka-angka jauh lebih sulit dan kejam daripada memadukan warna-warna yang harmonis. Seringkali, air mata tumpah diam-diam di balik meja kasir yang dingin.
Dalam tekanan itu, perlahan Sena menemukan kekuatan yang tidak pernah ia duga ada dalam dirinya. Ia mulai berinovasi, mengubah cara kerja toko, dan berbicara dengan ketegasan yang mengejutkan di hadapan orang-orang yang selama ini meremehkannya. Ia menyadari, ini adalah medan perang baru yang harus ia menangkan demi martabat keluarganya.
Pengalaman ini, meskipun pahit dan melelahkan, adalah esensi sejati dari pertumbuhan. Inilah *Novel kehidupan* yang sesungguhnya; bukan fiksi romantis yang manis, melainkan perjuangan nyata yang mengasah jiwa hingga tajam. Ia menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia yang tertera di kartu identitas, melainkan tentang kesiapan memikul beban yang bukan miliknya.
Waktu merangkak maju, dan toko itu perlahan bangkit dari keterpurukan. Sena tidak lagi hanya seorang seniman yang pemimpi; ia adalah manajer, negosiator ulung, dan pilar yang kokoh bagi ibunya. Bekas luka di hatinya akibat pengorbanan kini menjadi peta yang menunjukkan jalan, membimbingnya menuju versi dirinya yang jauh lebih kuat.
Ia mungkin kehilangan beberapa tahun terbaik dari masa mudanya, tahun-tahun yang seharusnya dihabiskan untuk melukis dan tertawa lepas. Namun, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pemahaman mendalam tentang prioritas, ketahanan mental, dan cinta tanpa syarat kepada orang-orang terkasih. Ia tumbuh, bukan karena ia ingin, tetapi karena keadaan memaksa ia untuk terbang.
Kini, Ayahnya sudah pulih, toko kembali stabil, dan Sena menatap tumpukan kuasnya yang berdebu di sudut kamar. Apakah ia akan kembali mengejar mimpinya yang tertunda, ataukah jalan baru yang telah ia ukir dengan darah dan air mata ini kini menjadi takdirnya yang sesungguhnya?
