Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah sebuah hadiah yang datang otomatis seiring bertambahnya usia, seperti kado ulang tahun yang pasti tiba. Dunia yang kurasakan hanyalah kanvas penuh warna pastel, tempat impian mudah dijangkau dan masalah hanyalah sketsa yang bisa dihapus kapan saja. Aku adalah gadis yang terlindungi, jauh dari kerasnya debu jalanan.
Semua berubah pada satu pagi di musim penghujan, saat Ayah harus meletakkan kuasnya dan beristirahat total. Tiba-tiba, Atelier Senja, bengkel kerajinan kayu yang menjadi jantung keluarga kami, berhenti berdenyut. Beban tanggung jawab itu mendarat di bahuku yang belum pernah memanggul apa pun selain tas kuliah.
Aku terkejut melihat angka-angka di buku kas. Ternyata, di balik aroma serbuk kayu yang damai, ada tumpukan utang yang mendesak dan tagihan yang menjulang tinggi. Orang-orang yang selama ini kulihat ramah, kini berubah menjadi penagih yang dingin dan tanpa kompromi.
Malam-malamku yang dulu dipenuhi dengan membaca novel romansa, kini digantikan oleh diagram arus kas dan laporan inventaris yang rumit. Rasa takut mencekikku, membuatku ingin lari dan kembali ke masa ketika Ayah yang mengurus segalanya. Namun, setiap kali aku melihat ukiran setengah jadi di meja kerja Ayah, aku tahu aku tidak bisa menyerah.
Inilah babak paling brutal dan jujur dari Novel kehidupan yang harus kuhadapi, di mana keindahan kata-kata digantikan oleh negosiasi yang keras dan keputusan yang menyakitkan. Aku belajar bahwa integritas seorang pengrajin tidak cukup untuk membayar listrik; dibutuhkan strategi dan keberanian untuk meminta penundaan dari bank.
Satu per satu, aku menutup lubang kerugian dengan ide-ide baru yang awalnya dicibir para karyawan senior. Aku mulai mendaur ulang sisa kayu, mengubahnya menjadi suvenir kecil yang laku keras di pasar turis. Setiap penolakan dari pemasok atau kegagalan promosi adalah cambukan yang justru menguatkan tekadku.
Aku menyadari, kedewasaan bukanlah tentang mencapai usia tertentu, melainkan tentang seberapa banyak api yang sudah membakar dirimu dan seberapa teguh kamu berdiri setelahnya. Bekas luka finansial dan emosional ini adalah ukiran terbaik yang pernah kurasakan, membentuk karakter yang jauh lebih kuat dari Risa yang dulu.
Kini, Atelier Senja kembali bersinar, cahayanya lebih terang karena aku yang menyalakannya sendiri. Aku telah melalui badai itu dan menemukan bahwa di dalam diriku, tersimpan kekuatan yang tak pernah ku duga.
Namun, saat aku mengunci pintu atelier malam itu, sebuah surat misterius tergeletak di bawah pintu, berisi tawaran pengambilalihan yang menggiurkan. Apakah ini ujian baru, ataukah akhir dari perjuangan yang baru saja kumulai? Aku tersenyum tipis, siap menyambut tantangan berikutnya, sebab aku tahu, aku bukan lagi gadis kemarin sore.
