Aku selalu membayangkan hidupku akan berjalan lurus, melukis di studio yang tenang, jauh dari hiruk pikuk tanggung jawab duniawi. Rencanaku tersusun rapi, seperti kanvas putih yang siap diisi dengan warna-warna impian. Aku yakin bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan di balik kuas dan palet.
Namun, semesta punya skenario yang jauh lebih dramatis. Tiba-tiba, telepon berdering di tengah malam, membawa kabar yang merobek peta masa depanku menjadi serpihan. Ayah sakit parah, dan bisnis keluarga yang selama ini menjadi sandaran hidup kami, kini di ambang kehancuran.
Mimpi yang kupeluk erat harus kulepas, digantikan oleh tumpukan faktur, laporan keuangan, dan tatapan penuh harap dari para karyawan. Aku yang kemarin masih seorang seniman, kini dipaksa menjadi seorang manajer, berhadapan dengan angka-angka yang terasa asing dan menakutkan. Rasa marah dan frustrasi sempat menjadi teman setiaku di malam-malam tanpa tidur.
Setiap pagi, aku berdiri di depan cermin, melihat pantulan mata yang bengkak karena tangisan diam-diam. Aku merindukan bau cat minyak, tetapi yang kurasakan hanyalah bau kertas tua dan kekhawatiran akan utang yang menumpuk. Aku merasa seperti pohon yang dicabut paksa dari tanah suburnya, lalu ditanam di gurun pasir yang keras.
Di tengah kelelahan mental yang mendera, aku mulai menemukan kekuatan yang tak kusangka ada di dalam diriku. Aku belajar bernegosiasi, mengambil keputusan berisiko, dan berdiri tegak di hadapan kegagalan. Aku menyadari, inilah babak paling jujur dari Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, tanpa editor, tanpa revisi awal.
Ternyata, kedewasaan bukanlah tentang mencapai usia tertentu, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu beradaptasi setelah badai menghantam. Bekas luka finansial dan emosional itu perlahan membentuk diriku menjadi seseorang yang jauh lebih tangguh dan berempati. Aku tidak lagi hanya melihat keindahan, tetapi juga menghargai proses di balik sebuah kreasi.
Aku tidak lagi melukis di kanvas, tetapi aku melukis ulang takdirku dengan ketekunan dan keberanian. Setiap transaksi yang berhasil, setiap senyum lega dari karyawan, terasa seperti sapuan kuas yang jauh lebih berarti daripada pameran seni manapun. Kebahagiaan kini bukan lagi tentang melarikan diri, tetapi tentang bertahan dan memperbaiki.
Meskipun bisnis itu akhirnya berhasil diselamatkan, aku tahu Risa yang lama telah tiada, digantikan oleh versi yang lebih matang, yang mengerti bahwa penderitaan adalah pupuk terbaik bagi jiwa. Aku mungkin kehilangan beberapa tahun untuk mimpi seniku, tetapi aku mendapatkan seluruh sisa hidupku sebagai manusia yang utuh.
Lalu, di suatu sore, ketika aku akhirnya duduk tenang di kursi Ayah, aku menemukan sebuah sketsa lama di laci mejanya—sketsa wajahku yang belum selesai, dengan pesan singkat di baliknya: "Nak, hidup adalah seni terindah, tapi hanya jika kau berani mengotorinya dengan lumpur perjuangan."
