Kota besar yang dulu kubayangkan adalah kanvas impian, kini terasa seperti labirin beton yang dingin dan tak peduli. Aku datang dengan bekal optimisme yang tebal, percaya bahwa semua akan berjalan sesuai rencana yang telah kubuat rapi sejak bangku sekolah. Saat itu, aku adalah Risa yang naif, yang hanya mengenal kesulitan sebatas tugas kuliah yang menumpuk.
Panggilan telepon tengah malam itu menghancurkan semua peta masa depanku. Suara ibu yang bergetar menyampaikan kabar buruk tentang kondisi ayah dan utang yang mendadak melilit, menuntutku untuk segera mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga. Dalam sekejap, gelar mahasiswa yang kubanggakan harus kutanggalkan, digantikan oleh jubah tanggung jawab yang terasa terlalu berat untuk pundakku yang kurus.
Malam-malamku berubah menjadi rentetan sif ganda: dari pelayan kafe pagi hari hingga penjaga toko kelontong saat malam menjelang. Aku tidak punya waktu untuk menangisi mimpi yang hilang; yang ada hanyalah hitungan rupiah dan target setoran yang harus terpenuhi. Kelelahan fisik itu menusuk, tetapi kelelahan mental jauh lebih menyakitkan karena harus menahan rindu dan rasa malu.
Aku mulai belajar membedakan mana simpati yang tulus dan mana tatapan kasihan yang menghakimi. Ada masa ketika aku makan hanya dengan sebungkus mi instan selama dua hari berturut-turut, hanya agar sisa gajiku bisa dikirimkan utuh ke kampung halaman. Aku dipaksa bernegosiasi dengan harga diri dan kebutuhan, dan seringkali, harga dirilah yang harus mengalah demi bertahan hidup.
Di tengah keheningan subuh, sambil membersihkan meja-meja bekas pelanggan, aku menyadari bahwa ini adalah babak terberat dalam Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri. Ini bukan lagi kisah romantis remaja yang manis, melainkan epik perjuangan yang penuh keringat dan air mata. Aku harus menjadi karakter utama yang kuat, tanpa editor atau sutradara yang bisa mengubah alur cerita yang sudah ditetapkan.
Namun, di balik kesulitan, kedewasaan datang bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil tempaan yang keras. Aku belajar menghargai jam tidur yang singkat dan senyum tulus dari rekan kerja yang sama-sama berjuang. Kehilangan banyak hal justru membuatku menemukan satu hal yang tak ternilai: kemampuan untuk bangkit kembali, berkali-kali, meski kaki ini terasa lumpuh.
Bekas luka di hatiku kini menjadi peta navigasi, penanda setiap medan perang yang berhasil kulewati. Setiap keputusan sulit, setiap penolakan, setiap kegagalan yang kualami, semuanya adalah pelajaran berharga yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah mana pun. Aku tidak lagi mencari kebahagiaan yang sempurna, tetapi mencari ketenangan dan penerimaan di tengah badai.
Risa yang sekarang mungkin tidak seceria Risa yang dulu, tetapi ia jauh lebih tangguh dan bijaksana dalam menghadapi takdir. Aku masih berjuang melunasi utang keluarga, masih merangkai kembali pecahan mimpi yang tersisa, namun kini aku melakukannya dengan kepala tegak dan hati yang penuh syukur atas kekuatan ini. Penderitaan yang kurasakan telah mengasah intuisiku dan membentuk integritas diri yang tak tergoyahkan.
Kedewasaan ternyata bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu menerima kenyataan pahit dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk terus melangkah maju. Kini, saat aku menatap cermin, aku melihat seorang pejuang yang siap. Aku bertanya, "Apa lagi tantangan yang akan kau berikan, Dunia?" Dan aku siap menanti babak selanjutnya, sebab aku tahu, cerita ini masih jauh dari kata tamat.
