Aku ingat betul, dulu aku adalah kolektor mimpi-mimpi besar yang terbingkai rapi, yakin bahwa masa depan hanyalah garis lurus menuju kebahagiaan yang telah ku rancang. Dunia terasa seperti kanvas yang baru saja disiapkan, menunggu sentuhan kuas paling indah. Aku naif, tapi di dalam kenaiifan itu ada keindahan yang kini terasa begitu jauh.
Semua berubah saat musim gugur tiba, bukan dalam bentuk daun yang berguguran, melainkan dalam bentuk surat tagihan dan kabar buruk yang mendadak menghantam meja makan. Ayah sakit parah dan bisnis keluarga, yang selama ini ku anggap abadi, ternyata berada di ambang kehancuran total. Mimpi-mimpi tentang beasiswa ke luar negeri dan karier seni harus ku lipat, ku simpan di laci terdalam.
Pada usia yang seharusnya ku habiskan untuk merayakan kebebasan, aku harus mengenakan setelan kerja dan berhadapan dengan tumpukan angka yang memusingkan. Beban tanggung jawab itu terasa begitu berat, seolah-olah aku memanggul gunung sendirian di tengah badai yang tak kunjung reda. Air mata seringkali menjadi teman setia di malam hari, mempertanyakan mengapa takdir sekejam ini padaku.
Puncaknya adalah ketika aku terpaksa menjual lukisan pertamaku, karya yang paling ku cintai, demi membayar hutang mendesak. Saat kuas itu lepas dari tanganku, ada bagian dari jiwaku yang ikut terkikis, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Namun, anehnya, di tengah rasa sakit itu, aku mulai menemukan ketenangan yang berbeda.
Aku belajar berbicara dengan nada tegas, mengambil keputusan tanpa keraguan, dan memahami bahwa cinta sejati terkadang berbentuk pengorbanan yang pahit. Setiap penolakan dari klien, setiap kegagalan kecil dalam negosiasi, justru mengasah insting dan membekaliku dengan pelajaran yang tidak pernah ada di bangku kuliah. Aku mulai menghargai proses, bukan sekadar hasil.
Inilah babak paling esensial dalam Novel kehidupan yang sedang ku jalani; babak di mana aku dipaksa menjadi dewasa, bukan karena usia, melainkan karena keadaan yang mendesak. Aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang keberanian untuk terus maju meski tak tahu apa yang menanti di tikungan berikutnya.
Setelah berbulan-bulan berjuang, kami berhasil menstabilkan keadaan, meski tidak sepenuhnya pulih. Aku menatap cermin dan melihat refleksi yang asing—mata yang lebih tajam, garis wajah yang lebih tegas, namun di dalamnya tersimpan kebijaksanaan yang tak ternilai harganya. Risa yang dulu telah mati, digantikan oleh Risa yang lebih kuat dan lebih tangguh.
Aku tidak lagi meratapi mimpi yang hilang, sebab aku tahu, tanpa badai itu, aku tidak akan pernah menemukan kekuatan tersembunyi di dalam diriku. Pengalaman pahit itu adalah guru terbaik yang pernah ku miliki, ia mengajariku bahwa peta kehidupan bisa dirobek kapan saja, dan tugas kita adalah menggambar ulang jalur baru dengan keberanian.
Kini, aku berdiri di persimpangan jalan baru, memegang kendali atas takdirku sendiri. Jika suatu hari nanti badai lain datang, aku tahu aku siap menghadapinya, sebab aku telah belajar bahwa harga sebuah kedewasaan adalah kehilangan, dan imbalannya adalah penemuan diri sejati. Lalu, pertanyaan yang selalu menghantuiku adalah, setelah semua pengorbanan ini, apakah aku masih berhak kembali mengejar jejak mimpi lamaku?
