Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah tentang mencapai kesempurnaan, tentang menyusun setiap langkah agar tidak ada satupun benang yang terlepas dari rajutan rencana. Sebagai seorang arsitek muda, aku hidup di bawah beban ekspektasi yang kubangun sendiri, mendambakan pengakuan atas keakuratan dan ketidakbercacatan karyaku. Dunia bagiku adalah blueprint yang harus diikuti dengan presisi mutlak.
Proyek pembangunan Galeri Senja adalah mahakarya yang seharusnya menjadi penanda namaku; sebuah struktur kaca dan baja yang kubayangkan akan berdiri tegak tanpa cela. Aku mengerahkan seluruh energi dan jiwa, menolak kompromi, bahkan saat timku mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Aku ingin segalanya sempurna, persis seperti yang ada di sketsa pensilku.
Namun, semesta punya cara sendiri untuk mengajarkan kerendahan hati. Di tengah badai tak terduga, struktur yang kubanggakan mengalami kemunduran signifikan—bukan kehancuran fisik, tapi kegagalan visi yang telak. Kesalahan perhitungan kecil yang dulu kuabaikan kini menjelma menjadi jurang yang menelan seluruh kepercayaan diriku.
Rasa malu itu menusuk lebih dalam daripada kritik tajam mana pun. Aku mundur ke dalam kesunyian, menatap refleksi diriku yang rapuh di jendela, melihat bukan lagi seorang arsitek ulung, melainkan seorang pemula yang tersesat. Kegagalan ini terasa seperti akhir dari segalanya, sebuah tanda bahwa aku tidak layak berada di panggung besar.
Dalam masa isolasi itu, aku menghabiskan sore di rumah kakekku, seorang pemahat kayu tua yang tangannya penuh urat dan bekas luka. Ia berkata, "Risa, kamu terlalu fokus pada hasil akhir. Setiap goresan yang salah, setiap retakan kecil di kayu, itu bukan cacat, melainkan bukti proses dan perjuangan." Ia menambahkan, bahwa apa yang kita sebut kegagalan adalah babak paling esensial dalam sebuah Novel kehidupan.
Aku mulai memahami bahwa kedewasaan bukanlah tentang menghindari kesalahan, melainkan tentang kemampuan untuk berdiri tegak setelah terjatuh, dengan bekas luka yang menjadi peta baru di kulit. Bekas luka itu bukan tanda kelemahan, melainkan monumen atas badai yang berhasil kulewati.
Perlahan, aku kembali ke lokasi proyek, namun dengan mata yang berbeda. Aku tidak lagi melihat struktur yang gagal, melainkan kanvas yang siap diubah dan diperbaiki. Aku mulai mendengarkan timku, menerima bahwa kolaborasi menuntut kelenturan, bukan kekakuan.
Aku menyadari, proses menjadi dewasa adalah melepaskan ilusi kontrol. Kita tidak bisa mengatur angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar. Kedewasaan sejati terletak pada penerimaan bahwa hidup ini berantakan, dan keindahan justru sering muncul dari kekacauan yang berhasil kita tata ulang.
Sekarang, Galeri Senja berdiri tegak, sedikit berbeda dari desain awal, namun jauh lebih kuat dan berjiwa. Ia adalah pengingat abadi bahwa luka terberat yang pernah kuderita adalah fondasi paling kokoh yang pernah kuperlukan. Aku memejamkan mata, merasakan angin sore menerpa wajahku, dan bertanya-tanya, pelajaran pahit apalagi yang akan disiapkan oleh takdir untuk membentuk babakku selanjutnya?
