Aku selalu membayangkan kedewasaan sebagai pintu gerbang menuju kebebasan, di mana aku bisa memilih jalan mana pun yang kuinginkan. Namun, hidup punya skenario yang jauh lebih dramatis dari yang pernah kubaca di buku-buku tebal. Titik balikku bukan perayaan ulang tahun, melainkan sebuah amplop cokelat berisi surat utang dan kunci toko buku tua milik mendiang Ayah.

Toko itu, "Senja Aksara," adalah warisan yang terasa lebih berat daripada beban batu. Bukan aset berharga, melainkan simpanan sejarah keluarga yang terancam gulung tikar karena manajemen yang kacau dan tumpukan pinjaman. Saat teman-temanku sibuk memilih universitas impian di luar kota, aku harus menelan pil pahit kenyataan, mengubur beasiswa yang sudah di depan mata.

Awalnya, aku ingin lari, menjual semuanya, dan kembali pada rencana hidupku yang rapi. Rasanya tidak adil; aku baru saja menemukan peta jalan menuju masa depanku, dan tiba-tiba peta itu disobek begitu saja. Malam-malamku dihabiskan bukan untuk membaca materi kuliah, melainkan untuk mempelajari laporan keuangan yang rumit dan mencari cara menunda penagihan.

Aku yang selalu bergantung pada Ayah untuk urusan praktis, kini harus berdiri di garis depan pertempuran. Aku belajar menawar harga buku bekas, menghadapi tatapan sinis dari pemasok yang meragukan kemampuanku, dan bahkan harus memecat seorang karyawan setia yang ternyata tidak jujur. Setiap keputusan terasa seperti tusukan pisau, memaksaku tumbuh dalam sekejap mata.

Rasa sakit karena pengkhianatan kecil dan kegagalan dalam negosiasi pertama adalah guru yang kejam, namun paling efektif. Aku mulai memahami bahwa dunia nyata tidak peduli dengan nilai akademisku atau seberapa baik niatku; yang penting adalah ketahanan dan kemampuan untuk bangkit kembali setelah jatuh. Aku berhenti mencari simpati dan mulai mencari solusi.

Aku menyadari bahwa semua kesulitan ini adalah babak krusial dalam sebuah Novel kehidupan yang harus kujalani. Ini bukan lagi tentang mencari akhir bahagia yang klise, melainkan tentang menghargai setiap lembar proses yang membentuk karakterku. Kedewasaan ternyata adalah seni menerima kekecewaan tanpa membiarkannya merusak jiwamu.

Perlahan, Senja Aksara mulai bernapas lagi. Bukan karena keajaiban, tapi karena keringat dan air mata yang kuinvestasikan di sana. Ketika aku melihat wajah seorang pelanggan tersenyum karena berhasil menemukan buku langka yang mereka cari, aku merasakan jenis kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Kedewasaan bukanlah tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak tahu apa-apa, lalu tetap melangkah maju. Aku kehilangan masa muda yang riang, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: fondasi yang kuat untuk diriku sendiri.

Toko buku itu masih berjuang, tetapi kini aku tahu, aku juga. Aku berdiri di ambang pintu Senja Aksara, menatap senja yang sesungguhnya. Aku tidak lagi takut pada bayangan masa depan yang tidak pasti, sebab aku telah membuktikan bahwa aku bisa bertahan dalam badai. Pertanyaannya sekarang, setelah semua ini, apakah aku masih punya sisa keberanian untuk kembali mengejar mimpi lama yang telah lama kukubur?