PORTAL7.CO.ID - Persiapan besar-besaran untuk perhelatan akbar Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Utara kini telah memasuki babak krusial, yakni fase penjualan tiket menit terakhir. Langkah ini diambil setelah proses permintaan tiket resmi sebelumnya telah rampung dilaksanakan oleh pihak penyelenggara.
Turnamen sepak bola terbesar di dunia ini dijadwalkan berlangsung selama lebih dari satu bulan, mulai tanggal 11 Juni hingga puncaknya pada 19 Juli 2026. Ajang ini akan melibatkan partisipasi total 48 negara yang tersebar di tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Fase penarikan undian tiket resmi telah ditutup setelah pihak FIFA berhasil memproses permintaan tiket yang mencapai angka fantastis, yakni total 500 juta permintaan dari penggemar di seluruh dunia. Kini, tiket sisa dijual berdasarkan prinsip siapa cepat dia dapat.
Dilansir dari Goal, FIFA juga telah mengaktifkan platform resmi penjualan kembali (resale) bagi para suporter yang terlewat kesempatan pada tahap awal namun masih sangat berminat untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
Harga tiket untuk babak penyisihan grup menunjukkan variasi yang signifikan, dimulai dari kategori termurah sekitar 60 dolar AS hingga mencapai 2.735 dolar AS untuk laga yang melibatkan tim tuan rumah. Kategori termahal diperuntukkan bagi laga final yang akan digelar pada 19 Juli.
Tiket untuk menyaksikan pertandingan final Piala Dunia 2026 dipatok dengan harga tertinggi mencapai 7.875 dolar AS per lembar tiket, mencerminkan tingginya minat global terhadap acara olahraga tersebut.
Menanggapi tingginya harga tiket stadion yang dianggap sulit dijangkau sebagian masyarakat, Pemerintah Kota New York mengambil langkah proaktif dengan menyediakan fasilitas nonton bareng gratis di lima wilayah kota tersebut.
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengonfirmasi bahwa USTA Billie Jean King National Tennis Center di Queens akan dialihfungsikan menjadi zona penggemar terbesar dengan kapasitas mencapai 10.000 orang.
"Acara-acara ini awalnya tidak direncanakan gratis, tetapi olahraga dunia seharusnya menjadi milik dunia," ujar Mamdani, memberikan penekanan pada pentingnya aksesibilitas publik terhadap tontonan olahraga global.