Shalat merupakan pilar utama dalam Islam yang membedakan identitas seorang mukmin sejati di hadapan Allah. Namun, seringkali ibadah ini sekadar menjadi rutinitas fisik tanpa kehadiran hati yang mendalam dan tulus. Memahami esensi khusyu sangat penting agar shalat tidak hanya menggugurkan kewajiban syariat semata, melainkan menjadi sarana transformasi jiwa.
Secara etimologi, khusyu bermakna ketundukan, ketenangan, serta sikap rendah diri yang tulus di hadapan Sang Pencipta. Dalam aspek syariat, kondisi ini melibatkan kesadaran hati akan kehadiran Allah yang membuahkan ketenangan fisik atau thumaninah yang sempurna. Tanpa adanya khusyu, sebuah shalat diibaratkan seperti jasad yang kehilangan nyawanya dan kehilangan nilai spiritualnya.
Terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. (QS. Al-Mu'minun: 1-2)