Langit sore itu tampak lebih gelap dari biasanya, seolah-olah semesta sedang bersiap meruntuhkan seluruh duniaku yang selama ini terasa aman. Kabar duka yang datang tiba-tiba memaksa kaki mudaku untuk berhenti berlari mengejar mimpi-mimpi yang selama ini hanya berpusat pada ego semata.

Aku yang terbiasa hidup nyaman di bawah perlindungan orang tua kini harus berdiri tegak di garis depan menghadapi badai. Tanggung jawab yang dulu terasa seperti dongeng jauh, kini membebani pundakku dengan kenyataan yang sangat dingin dan tidak kenal kompromi.

Lembar demi lembar hari kulewati dengan air mata yang harus disembunyikan di balik senyum palsu demi menguatkan adik-adikku. Setiap keputusan yang kuambil bukan lagi tentang apa yang kuinginkan, melainkan tentang apa yang harus dilakukan agar kami tetap bertahan.